Kenapa Kamu masih ngeblog ???

Log December 28th, 2010

Ngeblog ? Hare gene ? Masih ???
Kenapa ??
Karena eh karena..

Saya Suka ngeblog..
Gak peduli orang suka atau tidak dengan tulisan saya…
Kalo suka ya syukur..Kalo gak suka ya no problem.. gak usah di baca..

Ngeblog membuat hidup lebih hidup..
Ngeblog membuat otak selalu encer, karena harus mikir.. apa yang harus di tulis..
Ngeblog tidak sama dengan update status Facebook atau Twitter .. Kenapa ?? Karena Blog ada archive nya.. sedangkan FB atau Twitter ?? No no..
Ngeblog di index sama google juga koq..

Saya akan terus ngeblog..  🙂

Long Wiken kemaren nemenin si hon-hon belanja..
Daripada boring wara wiri nemenin si hon-hon.. mending ke toko buku.
Lihat dan iseng beli buku Malu bertanya sesat di Utang 1 & 2.
Buku nya sih lumayan , ada beberapa ilmu yang belum diriku ketahui mengenai seluk beluk hutang bank.
Hendrata Rating : 7/10
Ada yang membosankan, perasaan seperti di paksakan cerita tiap malem kongkow nya..  Jadi sedikit boring.. tapi dipaksa terus baca karena penasaran dengan Apa yang menyebabkan kita tersesat di hutang.
Lalu hubungan tersesat hutang dengan bertanya itu bagaimana ya..?  Hehe.
Buat pengusaha yang mau ngutang-ngutang an.. Recommended book .. Boleh juga nih..

Review dari Andaluarbiasa.com  -> Permalink http://www.andaluarbiasa.com/malu-bertanya-sesat-di-utang

Percayakah Anda, kalau jaringan bisnis bisa Anda kembangkan dengan berutang ke bank?

Sadarkah Anda, bahwa one man show yang Anda terapkan dalam bisnis Anda merupakan rapor yang kurang baik di mata bank?

Sudah yakinkah Anda, bahwa keaktifan Anda dalam sebuah komunitas atau asosiasi akan memudahkan Anda untuk memperoleh akses pembiayaan di bank?

Apa pula akibat dari ke-plinplan-an Anda membuat rencana bisnis bagi pengajuan kredit Anda?

Apakah Anda sudah mengenal konsep “4 tepat 5 sempurna” yang menjamin pemanfaatan terbaik kredit bank?

Jika jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “belum”, maka buku yang Anda pegang ini akan mengantarkan Anda kepada pemahaman-pemahaman baru seputar dunia perkreditan bank.

Disampaikan dalam kemasan sang sangat menarik: obrolan sersan alias serius tapi santai, Fajar S. Pramono mengajak Anda memahami berbagai filosofi dan permasalahan kredit yang dipastikan akan membuat Anda semakin paham seluk-beluk kredit bank, sekaligus meyakinkan Anda bahwa urusan kredit bank adalah gampang dan tak sesulit yang sering dibayangkan orang.

By : ES Ito
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Dikopas habis-habisan oleh saya dari sumber : detik.com

blank