Posting Pertama di 2011

Log January 3rd, 2011

Ini adalah posting pertama di Tahun 2011.

Mudah-mudahan cita-cita, resolusi bisa tercapai semua..

Selalu diberikan yang terbaik sama Allah SWT.

Amin ya robb..

Manusia hanya bisa berencana,
Manusia hanya bisa memiliki keinginan,

Tapi DIA lah yang menentukan hasil nya,
DIA lah yang paling tau , apa keputusan yang terbaik untuk kita.

Banyak manusia ingin sempurna, tapi lupa jika kesempurnaan itu hanya milik Nya.

Walaupun banyak resolusi 2010 yang tidak tercapai dengan sempurna, tetapi yakinlah jika itu semua terjadi karena DIA Maha Mengetahui apa yang paling baik untuk kita.

Kita hanya bisa berdoa dan berusaha, agar tahun ini lebih baik dari tahun yang kemarin.
Berdoa agar DIA selalu memberikan yang terbaik untuk kita.
Berusaha melakukan yang terbaik dalam menjalani kehidupan di hari ini dan hari esok.

Dan yakinlah bahwa hidup yang kita jalani sudah sangat baik dan sangat sempurna sesuai dengan kehendak Nya.

Selamat Tahun baru 2011, semoga Tahun 2011 lebih baik dari Tahun 2010. Amin Ya Robb

Target Penjualan December 2010

Log December 29th, 2010

Alhamdulillah Target Penjualan bulan December 2010 tercapai sudah. Lebih malah berkali-kali lipat.
Selamat buat diriku, Selamat buat Team Sales dan Team Marketing.
Diriku tidak ada apa apa nya tanpa kalian semua..
Love You All…

Hadiah akhir tahun yang indah. Alhamdulillah..

January Tahun 2011, berarti Target baru doong … ???
Tahun baru.. Target baru.. Bonus baru.. Salary baru buat semuaaa.. hehe

Amin. Mudah-mudahan tercapai..

Kenapa Kamu masih ngeblog ???

Log December 28th, 2010

Ngeblog ? Hare gene ? Masih ???
Kenapa ??
Karena eh karena..

Saya Suka ngeblog..
Gak peduli orang suka atau tidak dengan tulisan saya…
Kalo suka ya syukur..Kalo gak suka ya no problem.. gak usah di baca..

Ngeblog membuat hidup lebih hidup..
Ngeblog membuat otak selalu encer, karena harus mikir.. apa yang harus di tulis..
Ngeblog tidak sama dengan update status Facebook atau Twitter .. Kenapa ?? Karena Blog ada archive nya.. sedangkan FB atau Twitter ?? No no..
Ngeblog di index sama google juga koq..

Saya akan terus ngeblog..  :)

By : ES Ito
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Dikopas habis-habisan oleh saya dari sumber : detik.com

blank